22 Mei 2009

Bon Jovi

Tidak bisa dpungkiri lagi kalau Bon Jovi yang merupakan salah satu referensi musik rock dunia yang begitu fenomenal di decade 80 an hingga 90 an sangat identik sekali dengan frontman-nya atau vocalist –nya, yaitu John Francis Bongiovi Jr. atau yang lebih kita kenal dengan nama Jon Bon Jovi.Tidak hanya karena namanya menjadi identitas band. Tapi sekelompok musisi asal New Jersey yang terbentuk pada tahun 1983 ini, bisa jadi band papan atas berkat ambisi sang vocalis, Jon Bon Jovi.
Biografi Jon Bon Jovi, lahir pada tanggal 2 Maret 1962. Sedari kecil si Jon Bon Bovi ini memang sudah memantapkan niatnya untuk menjadi seorang rocker saat dewasa kelak. Ini terlihat dari kebiasaannya menghabiskan waktu di klub malam lokal, Ashbury Park, hanya untuk sekedar hang out, mendengarkan musik, atau jamming dengan musisi yang tampil.
Setelah merasa punya modal, pada tahun 1079, Jon Bon Jovi kemudian berinisiatif membentuk band dengan nama Atlantic City Expressway. Meski kelasnya hanya band lokal, tapi band ini lumyan sukses juga. Tapi hasilnya belum bisa memuaskan Jon Bon Jovi. Menginggat karir yang ingin dicapai Jon Bon Jovi tidah hanya sekedar dikenal di kampung halamannya saja tetapi bisa go internasional dan dikenal di seluruh belahan dunia.
Sebagai referensi dan juga patut dicontoh adalah ambisi yang dimiliki Jon Bon Jovi tidak lantas menutup matanya, tidak segan – segan pekerjaan sebagai tukang sapu studio rekaman juga dilakoninya supaya bisa berinteraksi secara total dengan para musisi top. Tempat kerja yang dipilih Jon Bon Jovi ini pun merupakan studio rekaman legendaries bernama “Power Station Studio”
Di sela – sela pekerjaannya sebagai tukang sapu studio, si Jon ini mulai mencoba menulis lagu. Dari tahun 1980 hingga 1983, 50 judul lagu berhasil ia tulis. Dari sekian banyak lagu ciptaannya, Jon Bon Jovi memilih lagu berjudul “Runaway” untuk dibikin demo. Ternyata, ada sebuah stasiun radio lokal benama WAPP yang tertarik dengan demo tadi. Oleh stasiun radio penggemar musik indie itu, lagu Jon Bon Jovi diudarakan, hasilnya lagu “Runaway” menjadi cukup populer.


Sayangnya kepopuleran lagu Runaway belum ada pendukungnya, sebab Jon Bon Jovi belum punya band. Akibatnya kontrak rekaman juga belum bisa didapat oleh si Jon ini. Didorong keinginannya yang begitu besar untuk bisa nemiliki sebuah band professional, maka Jon Bon Jovi mulai nengumpulkan personil buat membentuk band. Musisi yang pertama kali dikontak adalah, keyboardis, David Bryan, yang jugaa merupakan bekas rekannya di Atlantic City Expressway.
Meskipun tidak seambisius Jon Bon Jovi, tapi David Bryan, yang lahir pada 7 Februari 1962 ini ternyata juga punya cita – cita berkarir di dunia musik. Buktinya saat Jon Bon Jovi menghubunginya buat ikut gabung, David kemudian mengalihkan pendidikannya dari sekolah kedokteraan ke sekolah musik, Julliard Music School, di New jersey. Karena sejak kecil David Bryan ini memang sudah deket banget dengan dunia musik. Saat diajak Jon Bon Jovi untuk ngeband, si David ini langsung menjawab oke. Keduanya kemudian membentuk Jon Bongiovi & The Wild Ones, band yang jadi cikal bakalnya Bon Jovi. Berbekal nama tersebut, kedua calon musisi ini mulai mengirim demo – demo ke sejumlah perusahaan rekaman, bahkan sampai yang berdomisili di Los Angeles.
Meski usaha yang dilakukan terbilang cukup gencar, tetap saja belum membuahkan hasil. Sebab demo yang mereka kirim dianggap belum sempurna lantaran band belum lengkap dan hanya terdiri dari dua personil saja. David dan Jon kemudian mulai giat mencari personil pelengkap. Dan, orang yang beruntung menjadi incaran adalah drummer Frankie & The Knockouts, Tico Torres.
Sebenarnya, drummer kelahiran 7 Oktober 1953 ini lebih condong ke musik jazz. Selain itu si Tico Torres ini juga lebih berpengalaman di dunia musik. Tercacat sebelum dikontak Jon Bon Jovi, Tico sudah menyelesaikan 26 album rekaman bersama musis – musisi top seperti Alice Cooper, Cher, sampai Chuck Berry. Meski jauh berpengalamn daripada Dvid Bryan dan Jon Bon Jovi, tetapi Tico langsung respek saat bertemu Jon Bon Jovi saat pertama kali. Meskipun aliran musik yang bakal diusung band baru ini agak berbeda dengan gaya permainan Tico Torres, tetapi ajakan untuk bergabung juga langsung diterima Tico Torres.
Bergabungnya Tico Torres, membuat langkah Jon Bon Jovi untuk memantapkan formasi bandnya menjadi semakin cepat. Sebab Tico Torres kemudian mengusulkan nama bassis band Jersey bernama Alec John Such untuk dipertimbangkan sebagai personil berikutnya. Pasalnya Tico tahu persis kalo ciri permainan Alec John Such bakal klop dengan band bentukan Jon Bon Jovi. Latar belakang mereka pernah bermain bareng di sebuah band bernama “Phantom’s Opera” jadi referesinya.
Pemain bass kelahiran 14 November 1956 ini ternyata cukup klop dengan Jon Bon Jovi dan bandnya. Makanya eks personil New Jersey All State Orchestra saat masih jadi murid di Rahway Junior High School ini dengan cepat diterima. Sayangnya waktu itu, tidak ada yang mengira kalau Alec pada akhirnya harus berpisah duluan dengan mereka.
Empat orang personil utama sudah lengkap, sekarang tinggal posisi yang benar – benar menentukan dan penting bagi sebuah band rock, yaitu gitaris. Mencari seorang gtaris yang berkarakter ternyata bukan persoalan gampang. Makanya Jon Bon Jovi tidak lantas langsung menetapkan gitaris resminya. Untuk sementara, Jon menunjuk seorang teman yang tinggal bersebelahan dengan rumahnya bernama Dave Sabo, sebagai gitaris yang kelak menjadi gitaris Skid Row.
Alasan Jon Bon Jovi merekrut Dave Sabo , sebagai gitaris tanpa audisi karena ada tawaran manggung buat bandnya. Event pertama ini adalah penampilan konser para pendukung album kompilasi radio WAPP. Memang sih lagu “Runaway” yang mereka bawain waktu itu mendapatkan sambutan yang cukup antusias dari para penonton. Hanya saja Jon Bon Jovi belum bisa menerima Dave Sabo sebagai gitarisnya lantaran umurnya yang masih muda banget.
Kebetulan sehabis konser ada seorang pemuda bernama Richie Sambora tiba – tiba mundekati Jon Bon Jovi sambil menawarkan diri menjadi gitaris. Promosi Richie Sambora waktu itu adalah banyak mempunyai lagu ciptaan sendiri, selain permainan gitarnya yang cukup mantap. Tertarik dengan promosi Richie, Jon Bon Jovi kemudian mengadakan audisi khusus.
Gitaris kelahiran 11 Juli 1959 ini ternyata tidak berlebihan. Saat audisi semua kemampuannya dikeluarkan. Basic permainan yang dipengaruhi aliran blues milik Eric Clapton ternyata cukup memukau Jon dan rekan- rekannya. Jelas saja karena teknik – teknik istimewa tersebut sudah dikuasai Richie Samboro sejak berumur 12 tahun. Belakangan ketahuan kalau gitaris ini juga punya banyak pengalaman di dunia musik. Band – band yang pernah disinggahinya anatara lain Rebel, Mercy, Duke Williams & The Extremes, The Message, The Next, dan Hook. Jadi Richie pun diterima sebagai anggota kelima menggantiakan posisi Dave Sabo.
Bergabungnya Richie Sambora sekaligus meresmikan munculnya nama Bon Jovi. Formasi ini benar – benar dahsyat. Mereka hanya butuh 3 tahun sejak terbentuk untuk mencapai puncak karir tinggi di blantika musik dunia. Setelah merilis album Bon Jovi (1984), dan “7800◦Fahrenheit (1985), mereka merilis album masterpiece, “Slippery When Wet “ (1986) yang laku 10 juta kopi di seluruh dunia.
Nama Bon Jovi pun menjadi top act. Album – album berikutnya seperti New Jersey (1988), Keep The Faith (1992) dan kompilasi Cross Road (1994), meraup keuntungan besar. Sedemikian besarnya nama Bon Jovi, maka ketika Alec John Such keluar dari formasi pada tahun 1994, ternyata tidak memberi pengaruh besar. Karir Bon Jovi diteruskan dengan album – album yang sama dahsyatnya, seperti “These Days” (1995), “Crush” (2000), “Bounce” (2002), dan “This Left Feeling Right” (2004)
Tidak terasa hampir memasuki decade ketiga karir Bon Jovi di dunia musik. Bukti kalau mereka mampu bertahan di tengah gencarnya gelombang musik – musik baru. Yang jelas musik mereka tidak pernah kehilangan pamor buat bersaing. Hasil dari sebuah ambisi yang hebat dari seorang tukang sapu studio. .

Klik disini untuk baca artikel lebih lengkap.....

19 Mei 2009

Jimi Hendrix

Meskipun karirnya terbilang pendek, tetapi Jimi Hendrix, sebagai salah satu referensi guitaris dunia sudah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan musik. Jimi Hendrix menjadi referensi dan panutan bagi semua gitaris pada era sesudahnya. Bukan hanya pemain gitar saja, tetapi semua musisi. Bahkan gitaris sekaliber Jimmy Page, dalam beberapa repertoire klasik Led Zeppelin, juga sangat terpengaruh Jimmi Hendrix. Ini terbukti pada lagu “Dazed And Confused” yang sangat terasa seperti lagu “Hey Joe” nya Jimmi Hendrix. Mantan gitaris Gun N’ Roses, Slash, juga selalu menyelipkan intro “Voodoo Child” milik Jimi Hendrix yang khas dengan efek baby cry – nya pada setiap konser GNR. Disamping itu, Slash juga sempat merekam lagu berjudul “I Don’t Live Today” bersama Billy Cox dan Buddy Miles yang dimuat dalam album “Tribute Stone Free” yang dirilis pada tahun 1993
Bahkan Jimmi Hendrix juga menjadi referensi bagi dua guitaris top dunia seperti, Joe Satriani dan Yngwie Malmsteen. Kedua guitaris ini ternyata mulai bermain gitar pada tanggal 18 September 1970, bertepatan dengan hari kematian Jimmi Hendrix.
Joe Satriani sebenarnya pada awalnya ingin menjadi pemain bola, namun kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan beralih menjadi seorang gitaris ketika mendengar berita di radio tentang kematian Jimmi Hendrix. Hal serupa juga dialami Yngwie Malmsteen, yang juga mulai memegang gitar setelah menonton berita kematian Jimmi Hendrix di layar TV. Padahal gitar Yngwie Malmsteen sudah bertahun – tahun dibiarkan tergantung di kamarnya. Sebagai bukti kekagumannya terhadap Jimmi Hendrix, Yngwie Malmsteen pernah merekam lagu milik Jimmi Hendrix berjudul “Spanish Castle Magic” yang termuat dalam dua album milik Yngwie Malmsteen yaitu, “Yngwie Malmsteen’s Collection (1991), dan Inspirations (1997). Bahkan pada album Inspiration, Yngwie juga memuat lagi lagu milik Jimmi Hendrix berjudul “Manic Depression”

Kirk Hammet, Guitaris Metallica selalu menyebut nama Jimi Hendrix pada saat ditanya “Siapa Gitaris terhebat” Ia bahkan tidak pernah menyebut gitaris dari zamannya sendiri. Gitaris lain yang pernah memberikan tribute / penghargaan bagi Jimi Hendrix adalah Scotti Hill, gitaris Skid Row, dan Richie Sambora, gitaris Bon Jovi. Richie Sambora memuat lagu “The Wind Cries Mary” pada album soundtrack “Ford Fairlane Adventure” pada tahun 1990. Sedangkan penghargaan dari Scotti Hill adalah di album “Tribute Skid Row, B-side Ourselves” yang dirilis pada tahun 1992, dimana album tersebut juga memuat salah satu lagu milik Jimi Hendrix berjudul “Little Wing”.
Pada tahun 1993, King’s X, juga menyisipkan lagu “Manic Depression” di album mereka “Dogman”. Bahkan sebelumnya, yaitu di tahun 1989, Great White juga pernah memainkan lagu “Red House” di atas panggung dan memuatnya pada album mereka “Recovery: Live”. Di tahun yang sama, Ozzy Osbourne juga pernah membawakan lagu milik Jimi Hendrix berjudul “Purple Haze’ di Moscow Rock Festival’ , yang kemudian dimuat di album kompilasi “Stairway To Heaven, Highway To Hell”. Untuk informasi dan referensi tambahan, musisi Reb Beach, juga pernah memuat lagu “Purpe Haze” di album Winger Pull” di tahun 1993. Selain itu, Steve Vai dalam album “Tribute Hendrix In From The Storm (1995), juga membawakan dua lagu milik Jimi Hendrix berjudul, “Bold As Love” dan “Drifting”. Steve Vai bersama Joe Satriani serta Eric Johnson juga menampilkan lagu “Red House” di album “G3 Live” di tahun 1997.
Pada decade 70-an banyak guitaris dahsyat seperti Tomy Iommi (Black Sabbath), Ace Frehley (Kiss), Richie Blackmore (Deep Purpe) dan lainnya. Kemudian di tahun 80-an bermunculan gitaris top dunia bahkan bisa dikatakan lebih hebat dari Jimmi Hendrix, sepert Eddie Van Halen, George Lynch (Dokken), Marty Friedman (Megadeth), Dimebag Dareel (Pantera) dan masih banyak lagi. Di tahun 90-an muncul nama John Petrucci (Dream Theater), tapi semuanya belum bisa menyamai kebesaraan nama Jimmi Hendix. Karena bisa dikatakan kalau Jimmi Hendrix sudah menjadi legenda gitaris dunia hingga sekarang.
Klik disini untuk baca artikel lebih lengkap.....

17 Mei 2009

Toto (Bagian 1)

Pada postingan informasi dan referensi musik edisi kali ini saya akan mencoba mengangkat cerita, biografi, dan perjalanan karir dari band yang cukup tersohor di era 80 an hingga 90 an.Banyak orang mengatakan bahwa pengalaman adalah pelajaran berharga. Bagi group band Toto, pernyataan itu memang benar adanya. Sebelum menjadi satu group, mereka adalah musikus studio. David Paich (keyboard), Steve Lukather (gitar), Steve Porcaro (gitar), Jeff Porcaro (drum), Bobby Kimball (vocal), dan David Hungate (bas) bisa dibilang telah memiliki jam terbang cukup tinggi dalm membantu proyek rekaman penyanyi dan juga beberapa band di Amerika.Toto terbentuk pada tahun 1978, di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Untuk referensi, Toto sebenarnya merupakan hasil pertemuan eman musikus yaitu, David Paich, Steve Lukather, Steve Porcaro, Jeff Porcaro, Bobby Kimball, dan David Hungate, mereka mendirikan group musik tak lain karena tertarik dengan materi lagu dari band – band Inggris, seperti Led Zeppelin, The Rolling Stones, dan Yes. Band – band tersebut ternyata sangat berpengaruh dan menjadi referensi dalam musik Toto. Nama Toto sendiri diambil dari nama anjing milik Dorothy, tokoh dalam kisah The Wizard of Oz.Toto berhasil masuk dapur rekaman karena produser percaya atas kemampuan dan pengalaman mereka sebagai musikus studio, khususnya setelah para personil Toto berhasil menangani rekaman album Silk Degrees Boz Scaggs.Album solo yang didukung David Paich, Jeff Porcaro, dan David Hungate itu menjadi jaminan Toto memasuki dapur rekaman..Kesempata tersebut dimanfaatkan Toto unuk merilis debut album Toto. Sebelumnya, single “Hold The Line” dirilis ke pasaran di tahun 1978. Single tersebut berhasil menduduki Top 10 di Amerika disusul album Toto yang terjual lebih dari dua juta keeping.Sukses debut album Toto, berlanjut ke album kedua, “Hydra”, yang dirilis pada tahun 1979. Namun sayang album tersebut hanya sukses pada angka penjualannya saja, tetapi tidak sefenomenal debut album Toto. Bahkan format musik mereka juga yang semula memadukan corak rock-fusion-classic, tidak muncul di album Hydra karena ternyata warna jazz lah yang lebih dominan. Meskipun demikian rupanya Toto masih menampilkan lagu bergaya rock seperti “All Us Boys”. Tidak ketinggalan corak black music juga mereka tampilkan dalam lagu “99”.

Toto baru sukses dan berhasil mencetak lagu – lagu evergreen setelah merilis album “Turn Back” di tahun 1980. Album ini boleh saja jeblok di pasaran, tetapi album ke-4 yang diberi judul Toto IV (1982) justru sebaliknya, ibarat album emas bagi Toto.Lewat album tersebut Toto berhasil melejitkan 3 hit legendaries seperti “Rosanna”, “Africa”, dan “I Wan’t to Hold You Back”. David Paich, keyboardis Toto mengatakan ketiga lagu tersebut mempuyai karakter tersendiri. “Rosanna” misalnya lagu ini lebih condong ke fusion, “Africa” condong ke pop afro, dan “I Wan’t To Hold You Back” bergaya soft rock.Barbagai cerita mewarnai pengarapan album ke – 4 tersebut. “Rosanna” merupakan lagu yang berkisah tentang seorang wanita bernama Rosanna Arquette dan pernah menjalin cinta dengan Steve Lukather. Lagu “Rosanna” berhasil menggondol Grammy untuk kategori Best Pop Vocal Performance dan Best Instrumental Arranggement with Vocal. Album Toto IV juga berhasil dinobatkan sebagai album terbaik dan produser terbaik di tahun 1982.Namun, seperti kebanyakan group lain, sukses itu ternyata tidak diikuti kekompakan personel. Karena sang frontman, Bobby Kimbal, malah memilih keluar dari Toto. Menurut desas – desus yang berkembang, Bobby Kimbal dipecat dari Toto karena tidak disiplin. David Hungate rupanya juga menyusul Bobby Kimbal. Pengganti Bobby Kimbal selanjutnya adalah Dennis Fergie Fredickson. Sedangkan adik kandung Steve dan Jeff, yaitu Mike Porcaro, tampil sebagai bassis baru Toto.Setelah merilis album “Isolation” di tahun 1984, Dennis Fergie Fredickson mundur dari posisi vocalis sebelum merilis album “Fahrenheit” (1986), posisi Dennis kemudian digantikan oleh Joseph Williams.Fahrenheit rupanya memiliki kasus yang sama dengan album “Toto IV”, melalui album “Fahrenheit”, Toto berhasil melejitkan hit bernuansa pop jazz, yaitu melalui lagu “Lea” dan “I’ll Be Over You”. Bisa dikatakan Fahrenheit adalah album yang identik dengan album “Toto IV” dan “Hydra” dimana lebih banyak menyajikan lagu – lagu jazzy. Sebenarnya masih banyak cerita tentang Toto cuma kayaknya gak asik kalau dimunculin semuanya sekarang jadi tungguin di postingan selanjutnya, sebagai bocoran si Bobby Kimbal mantan vocalis Toto bakal gabung lagi bareng Toto loh penasaran khan?? .
Klik disini untuk baca artikel lebih lengkap.....

13 Mei 2009

Whitney Houston

Whitney Houston adalah seorang penyanyi yang dilahirkan pada tanggal 6 Agustus 1963 di East Orange, New Jersey, Amerika. Whitney Houston merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara pasangan John dan Cissy Houston. Sebagai salah satu referensi musik, memang tidak bisa dipungkiri kalau musik telah menjadi bagian kehidupan Whitney Houston, karena sejak kecil Whitney Houston telah diajari teknik – teknik bernyanyi oleh ibunya yang merupakan seorang penyanyi latar R&B yang cukup sukses. Untuk referensi dan informasi tambahan, pada saat Whitney Houston berumur 10 tahun, ia sudah mulai terjun kedua musik dengan menjadi penyanyi latar untuk Low Rawls dan juga Chaka Khan.

Whitney Houston ini juga pernah berprofesi sebagai seorang model sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia musik professional di tahun 1985. Setelah menandatangani kontrak dengan Arista Records, lewat single “Saving All My Love For You” yang terdapat di debut album perdananya, Whitney Houston berhasil mendapatkan penghargaan Grammy Award. Kemudian di tahun 1987, lewat albumnya yang bertitle "Whitney", ia juga berhasil menyandang predikat sebagai penyanyi wanita pertama yang mampu menempatkan lagunya di nomor satu chart tangga lagu dunia. Semenjak itu secara berturut – turut Whitney Houston selalu memperoleh penghargaan Grammy Award dan menjadi penyanyi pertama yang berhasil menempatkan 7 lagunya secara berturut – turut di nomor satu chart musik dunia versi Billboard Magazine. Selain dunia tarik suara, Whitney Houston juga sukses membintangi beberapa film layer lebar, seperti “The Body Guard & Waiting To Exhale”. Selain itu, Whitney Houston ini juga banyak terlibat aktif di beberapa organisasi kemanusiaan, seperti “The United Negro College Fund”, “The Children Diabetes Fund”, “St Jude’s Children’s Hospital”. Selain itu Whitney Houston juga mendirikan The Whitney Houston Foundatiom, sebuah yayasan non profit untuk anak – anak yatim piatu, dan untuk anak –anak penderita kanker dan juga aids. .

Klik disini untuk baca artikel lebih lengkap.....

10 Mei 2009

Diana Ross

Informasi dan referensi musik pada postingan kali ini bercerita tentang Diana Ross yang merupakan salah satu penyanyi wanita paling sukses di era 60-an. Biografi Diana Ross di dunia musik diawali dengan membentuk kelompok vocal dengan nama “Primetes” di tahun 1959 bersama Mary Wilson, Florence Ballard, dan Barbara Martin. Setelah memperoleh kontrak rekaman dengan Motown Records, The Primettes kemudian berganti nama menjadi The Supremes. Tapi kemudian Barbara Martin keluar sehingga mereka tinggal bertiga. Delapan tahun kemudian The Supremes berganti nama menjadi “Diana Ross and The Supremes” setelah Cindy Birdsong masuk menggantikan Florence Ballard. Setelah merilis album “Someday We’ll be Together” di tahun 1969, Diana Ross mulai bersolo karier dengan merilis sngle “Ain’t No Mountain High Enough” di tahun 1970. Setelah itu Diana Ross lebih banyak berkecimpung di dunia film dengan membintangi film “Biography of Billie Holiday”.

Pada bulan Juni 1973, Diana Ross merilis album “Touch Me In The Morning” yang diikuti dengan album duetnya dengan Marvin Gaye. Di bulan Oktober 1975, Diana Ross kembali berperan dalam fim “Mahogany”, kemudian “TheWiz” di tahun 1978, dimana dalam film tersebut si Diana Ross ini beradu acting dengan King of Pop Michael Jackson. Selanjutnya di tahun 1979, Diana Ross kembali ke dunia layer lebar dengan membintangi film berjudul “The Boss”. Nama Diana Ross semakin berkibar setelah berduet dengan Lionel Richie dalam sebuah lagu berjudul “Endless Love” .

Klik disini untuk baca artikel lebih lengkap.....

Michael Bolton Sebuah Referensi

Selain dikenal sebagai seorang penyanyi mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Micheal Bolton juga merupakan seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM). Jadi tidak heran kalau si Michael Bolton ini juga mempunyai sebuah yayasan bernama “Michael Bolton Foundation” yang menaungi anak – anak yatim piatu dan para wanita korban pelecehan seksual yang dirikan pada tahun 1993. Sebagai referensi, Sting juga pernah dianugrahi penghargaan “The Prestigious Lewis Hine Award” dari The National Child Labour Committee atas dedikasinya tersebut. Biografi Sting sebelum menjadi seoarang penyanyi professional, Sting lebih dulu dikenal sebagai pencipta lagu, kalau anda pernah mendengar lagu berjudul”By The Time This Night Is Over” yang pernah dibawakan oleh Kenny G & Peabo Bryson serta “We’re Not Making Love Anymore” yang dipopulerkan oleh Barbara Streisand itu adalah beberapa lagu hasil ciptaan Om Micheal Bolton ini.

Untuk referensi tambahan, Michael Bolton juga merupakan penulis buku “The Secret of The Lost Kingdom” terbitan Walt Disney. Banyak juga ternyata aktivitas yang Michael Bolton kerjakan dan bisa dikatakan dia merupakan penyanyi yang bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya, bagaimana dengan anda? .

Klik disini untuk baca artikel lebih lengkap.....

Sting diantara Dua Pilihan

Biografi tentang sting sebelum jadi seorang penyanyi seperti sekarang ini mungkin tidak banyak yang tahu kalau dulunya dia adalah seorang guru sekolah dasar di Cramlington, sebuah kota kecil di utara New Castle, Inggris. Ceritanya kala itu Sting dapat tugas mengajar di sebuah kelas yang isinya adalah anak – anak berusia 8 tahun, kalau di Indonesia mungkin setingkat dengan kelas 3 SD. Tapi karena jiwanya adalah seorang musisi jadi Sting malah lebih sering bermain gitar di depan murid – muridnya daripada mengajarkan mata pelajaran yang seharusnya diajarkan meskipun sebenarnya Sting bukanlah guru seni musik.
Untuk referensi tambahan, Sting bahkan membebaskan muridnya untuk berekspresi sekaligus bertanya dan belajar serta sering mengajak mereka pergi dari kejenuhan belajar. Metode yang jarang digunakan oleh guru kebanyakan.

Tapi profesi Sting sebagai seorang guru ternyata tidak berlangsung lama karena 2 tahun kemudian Sting harus dihadapkan pada dua pilihan karier, tetap menjalankan profesi sebagai guru atau melanjutkan cita – citanya menjadi seorang musisi. Tapi pada akhirnya Sting memutuskan musik sebagai jalan hidupnya dan berhenti jadi guru.
Nama asli Sting adalah Matthew Gordon Summer yang juga merupakan pentolan dari The Police, sebuah band rock era 80-an yang cukup tersohor namanya.

Klik disini untuk baca artikel lebih lengkap.....

SUMBER PENGHASILAN

 
Masukkan Code ini K1-434DCE-X
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

MUSIC DOWNLOADS

SOFTWARE